Monday, January 02, 2006

Artikel ttg Tomat:

Tomat (Solanum lycopersicum)

Tomat (Solanum lycopersicum) ada dua macam yaitu tomat buah dan tomat sayur. Perbedaannya terletak pada bentuk dan ketebalan kulitnya. Kalau tomat buah, bentuknya agak lonjong dan kulitnya tebal. Sebaliknya, tomat sayur berbentuk bulat dan kulitnya lebih tipis.
Tomat buah biasanya digunakan sebagai salad segar, dan langsung dikonsumsi tanpa perlu dimasak terlebih dahulu. Tomat jenis ini lebih tahan lama dibandingkan tomat sayur. Tomat sayur biasanya digunakan sebagai campuran sayur yang dimasak, dan tidak bisa tahan lama (cepat busuk).
Akan tetapi, kedua jenis tomat ini sama-sama berkhasiat bagi tubuh manusia, yaitu untuk:
• Mengatasi gusi berdarah: sebuah tomat dicuci bersih, lalu dimakan segar-segar. Lakukan ini 1x sehari selama sebulan.
• Mengatasi sembelit: sesekali minum jus tomat sesudah makan.
• Menghaluskan Wajah: sebuah tomat yang berwarna merah tua diperas. Oleskan airnya ke wajah berkali-kali setiap hari. Bisa juga tomat diiris lalu digosokkan ke wajah.



PERKEMBANGAN HARGA RATA-RATA BAHAN POKOK, BARANG PENTING DAN
BARANG UMUM LAINNYA DI KABUPATEN GROBOGAN.
PADA TANGGAL : 30 NOPEMBER 2005

No Jenis Barang Satuan Harga Pada Tanggal Perubahan dr. yg. Lalu (%) Keterangan
10/25/2005 11/30/2005
I KELOMPOK TANAMAN PANGAN
PERKEBUNAN DAN KEHUTANAN

A BAHAN POKOK
1 Beras RJ1 kg 3,700 3,700 cukup
2 Beras Umbuk Mentik (poles) kg 3,800 3,700 -2.63 cukup
3 Beras RJ2 kg 3,600 3,600 cukup
4 Beras IR 64 kg 3,300 3,500 6.06 cukup
5 Beras Umbuk Mentik kg 3,500 3,500 cukup
6 Beras C4 II kg 3,500 3,400 -2.86 cukup

B BARANG UMUM
1 Jagung kuning pipilan kg 1,500 1,600 6.67 cukup
2 Kacang tanah kupas kg 8,000 8,800 10.00 cukup
3 Kedelai kuning kg 5,000 5,000 cukup
4 Kedelai hitam kg - - cukup
5 Kacang hijau kg 6,000 6,000 cukup
6 Ketela rambat kg 1,000 1,000 cukup
7 Ketela pohon kg 1,000 1,000 cukup
8 Tepung tapioka kg 3,500 3,500 cukup
9 Gaplek kg - - cukup

C BARANG UMUM SAYUR MAYUR
1 Kol/ kobis kg 1,500 1,600 6.67 cukup
2 Kentang kg 3,500 3,000 -14.29 cukup
3 Tomat buah kg 2,000 2,000 cukup
4 Cabe merah besar kg 10,000 9,500 -5.00 cukup
5 Wortel kg 1,500 1,500 cukup
6 Bawang merah besar (kering) kg 7,500 7,000 -6.67 cukup
7 Bawang putih Sincou (besar) kg 7,000 7,000 cukup
8 Kelapa butir 2,000 2,000 cukup
9 Bayam ikat 500 500 cukup
10 Terong Hijau biji 250 250 1 buah
11 Tomat Sayur Lokal kg 1,000 1,500 50.00
12 Bawang Merah lokal kg 6,500 6,500
13 Kangkung ikat 50 50
14 Kacang Panjang ikat 500 500 isi 8 lonjor
15 Cabe rawit (campur) kg 4,000 3,000 -25.00

D. BARANG PENTING
1. Cengkeh kg - -
2. Kopra kg - -
3. Pupuk SP 36 kg 1,700 1,700 cukup
4. Pupuk Urea Pril kg 1,200 1,200 cukup
5. Pupuk ZA kg 1,100 1,100 cukup
6. Pupuk KcL kg 2,400 2,400 cukup
7. Urea Tablet kg 1,400 1,400 cukup

E. BARANG UMUM LAINNYA
1. Panili kering kg - -
2. Kopi kering glondong kg - -

II. KELOMPOK PERIKANAN DAN
PETERNAKAN

A. BAHAN POKOK
1. Ikan asin teri 1 kg 22,000 25,000 13.64 cukup
2. Ikan asin teri 2 kg 24,000 24,000 cukup
3. Ikan asin pedo kg 6,500 7,000 7.69 cukup
4. Ikan asin layur kering kg 6,500 7,000 7.69 cukup

B. BARANG UMUM LAUK PAUK
1. Telur ayam ras kg 7,600 7,500 0.00 cukup
2. Telur itik kg 700 700 cukup
3. Tahu kepel per 10 2,000 2,000 cukup
4. Tempe per 10 2,000 2,000 cukup
5. Daging sapi kg 45,000 45,000 cukup
Daging kerbau kg 33,000 33,000 cukup
Daging kambing kg 35,000 35,000 cukup
Daging ayam ras kg 12,000 12,000 cukup
6. Ikan segar - Bandeng kg 10,000 10,000 cukup
-Tawas kg 7,000 7,000 cukup
- Lele dumbo kg 9,000 9,000 cukup
7. Udang segar - Windu kg - -
- Putih kg 20,000 20,000 cukup
- Jerbung kg - -

C. BARANG UMUM LAINNYA
1. Susu segar liter 3,000 3,000 cukup
2. Susu kental manis - Bendera 398 gr 5,800 5,800 cukup
- Indo milk 398 gr 5,400 5,400 cukup
3. Susu bubuk - Bendera 400 gram dos 18,500 18,500 cukup
- Dancow 400 gram dos 20,000 20,000 cukup

III KELOMPOK INDUSTRI BARANG
KONSUMSI DAN ANEKA
INDUSTRI

A. BAHAN POKOK
1. Gula pasir : SHS kg 5,500 5,500 cukup
2. Tepung terigu segitiga biru kg 3,800 3,700 -2.63 cukup
3. Minyak goreng - Bimoli 620 ml 7,700 7,700 cukup
- Sawit kg 5,000 5,000 cukup
4. Sabun cuci - Omo 500 gr 1,900 1,900 cukup
- wing's 500 gr 2,000 2,000 cukup
5. Sabun mandi - Lux biji 1,600 1,600 cukup
- Give biji 1,000 1,000 cukup
6. Garam - Hancur kg 2,000 2,000 cukup
- Halus kg 2,200 2,200 cukup
- Bata bata 250 250 cukup
7. Textile : - Teteron m 8,000 8,000 cukup
- Kain kasur m 15,000 15,000 cukup
- Blaco m 9,000 9,000 cukup
- Kain sprei 2,40 m 20,000 20,000 cukup
- Kain famatex m 17,000 17,000 cukup
8. Batik sandang : - Mori biru potong 25,000 25,000 cukup
- Blaco potong - -
- Prima potong 30,000 30,000 cukup

B. BARANG PENTING
1. Semen Nusantara 50 kg zak 38,500 38,500 cukup
2. Semen Tiga Roda 50 kg zak 38,500 38,500 cukup
3. Semen Gresik 50 kg zak 37,500 37,500 cukup
4. Semen Putih zak 55,000 55,000 cukup
5. Benang Jahit 100 yard 2,000 2,000 cukup
6. Kayu Lapis
- 3 mm x 90 x 120 cm lembar 40,000 40,000 cukup
- 3 mm x 120 x 240 cm lembar 35,000 35,000 cukup
- 4 mm x 120 x 240 cm lembar 45,000 45,000 cukup

C. BARANG UMUM LAINNYA
1. Kertas HVS folio rim 21,000 23,000 9.52 cukup
2. Kertas Dorslag folio rim 14,000 14,000 cukup
3. Kertas Doplikator folio rim 23,500 23,500 cukup
4. Gula kelapa kg 5,700 5,700 cukup
5. Emping mlinjo kg 23,000 23,000 cukup

IV. KELOMPOK INDUSTRI LOGAM
DAN PERTAMBANGAN

A BAHAN POKOK
1. Minyak tanah liter 2,600 2,600 cukup

B. BAHAN PENTING
1. Bahan bangunan
2. Besi beton
3. - 6 mm batang 13,000 13,000 cukup
- 8 mm batang 22,000 22,000 cukup
- 10 mm batang 34,000 34,000 cukup
- 12 mm batang 50,000 50,000 cukup
Seng gelombang BJLS
- 0,18 lembar - -
- 0,18 lembar 60,000 60,000 cukup
- 0,21 lembar 40,250 40,250 cukup
- 0,25 lembar - -
- 0,30 lembar - -
- 0,35 lembar - -
Paku
1 inch kg 8,000 8,000 cukup
1,5 inch kg 8,000 8,000 cukup
2 inch kg 7,500 7,500 cukup
2,5 inch kg 7,500 7,500 cukup
3 - 5 inch kg 7,500 7,500 cukup
bahan bakar
- Minyak solar liter 4,700 4,700 cukup
- Minyak premium liter 5,000 5,000 cukup

C. BARANG UMUM LAINNYA
1. Emas
- 24 karat gram
- 22 karat ( 75 % ) gram 125,000 125,000 blm termasuk
- 18 karat gram ongkos



Kisah sukses – petani Tomat:

Tomato, Darmono, dan Pangrango

Pikiran Arief Darmono 2 hari usai wisuda terlempar ke masa 1,5 tahun silam. Ia ingat ketika itu seorang pekebun di Sukabumi, Jawa Barat, berpesan, "Kalau sudah lulus datanglah ke sini". Alumnus Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada itu menuruti kata hatinya: berangkat ke Sukabumi. Kini di kesenyapan kaki Gunung Pangrango, Arief menuai 20 ton tomat per hari dari lahan 20 ha. Dengan harga jual Rp700 per kg saja ia meraup untung Rp2-juta sehari.

Dari luas lahan itu Arief mengalokasikan 12 ha untuk tomat. Selebihnya dimanfaatkan untuk budidaya beragam sayuran. Khusus tomat ia memetik 15-20 ton per hari. Ketika harga jual Rp700 per kg saja ia meraup laba Rp2-juta per hari atau Rp60-juta per bulan. Padahal harga tomat di tingkat pekebun kerap bertengger pada kisaran Rp3.000-Rp5.000 per kg. Artinya, pundi-pundinya kian menggelembung.

Buah anggota famili Solanaceae itu dijual ke Pasar Induk Kramatjati, Tanahtinggi, Tanahabang, Jembatanlima -semua di Jakarta-, dan pasar induk di wilayah Bogor. Saban hari kala senja menjelang 5 buah truk berkapasitas 6-7 ton hilir-mudik di kebunnya di Undrusbinangun, Selabintana-lokasi kebun Arief. Truk-truk itulah yang membawa hasil panen ke Jakarta.

Tak melulu pasar tradisional yang diincarnya. Sekitar 25% produksinya menembus pasar swalayan. "Ada pemasok pasar swalayan yang rutin menampung 250 ton per tahun untuk disebarkan ke beberapa pasar swalayan," ujar Arief. Untuk pangsa pasar swalayan, harga minimal Rp2.000/kg. Pasar Batam pun ditembusnya dengan pasokan 18 ton/bulan. "Memang tidak rutin, biasanya bila produksi mereka rendah," kata suami Rini Rustiani itu. Itu tidak dikirim sendiri, melainkan ada pemasok yang rutin mengambil.

Jalan panjang
Keberhasilan Arief bukan datang tiba-tiba. Ini memang bagai kisah nonfiksi. Namun, itulah yang dialami Arief Darmono 10 tahun lampau. Di Sukabumi ia segera menemui pria paruh baya yang pernah menawarkan untuk membuka lahan. Mereka saling bertemu ketika Arief mengikuti kegiatan di Selabintana, Sukabumi. Kemudian Arief mengelola lahan seluas 5 ha dengan ditanami cabai.

Berkat pengalamannya turun lapang semasa kuliah, ia tak canggung lagi mengelola kebun. "Saya bertekad Sarjana Pertanian tidak dipandang sebelah mata," ujar ayah M. Revin Arga itu mantap. Sukses pada periode pertama, membuat pemilik lahan mempercayakan tanah 16,5 ha untuk dikelola Arief.

Dua tahun makan garam dalam pengelolaan kebun dirasakan cukup. Ia memutuskan untuk membuka lahan sendiri seluas 3 ha pada 1995. Awalnya ia menanam cabai. Namun, kemudian tomat dipilih karena menurut perhitungannya budidaya lebih mudah, produktivitas lebih tinggi, dan biaya produksi lebih rendah. Laba dari penanaman sedikit demi sedikit dikumpulkan untuk memperluas lahan. Pada 1997-1998 lahan bertambah menjadi 10 ha. Kini areal penanaman berkembang menjadi 20 ha yang tersebar di 8 lokasi di Undrusbinangun, Sukabumi.

Modal awal ia dapatkan dari pinjaman sebuah bank. Setidaknya dibutuhkan Rp11-juta-Rp12-juta per ha kala itu. Populasi rata-rata 18.000 tanaman per ha. Arief mampu memproduksi 4 kg per tanaman. Padahal pekebun lain rata-rata hanya 2 kg per tanaman. Meski produktivitas tinggi, tetapi biaya produksi relatif rendah.
Menurut perhitungan Arief saat ini biaya untuk setiap tanaman hanya Rp2.000. Wajar jika dengan harga Rp700 per kg pun, Arief masih menangguk laba. Pekebun lain, dengan harga jual sama hanya mampu menutup biaya produksi. Efisiensi memang diterapkan Arief. Biaya penggunaan pupuk kimia dapat ditekan dengan diganti pupuk organik yang lebih murah dan ramah lingkungan.

Bagi Arief keyakinan, kerja keras, dan hubungan baik dengan orang lain adalah kunci suksesnya. Selain itu kejelian melihat pasar juga perlu. Seperti pemilihan jenis tomat. Varietas berbentuk lonjong kini dipilih Arief karena lebih diminati konsumen. Untuk itu varietas lonjong seperti arthaloka dan new samina kerap ditanam.

Kebun Agro Restu Inti Farm itu melibatkan 150-200 karyawan. Bila panen raya kebutuhan tenaga kerja melonjak menjadi 400-500 orang. Mereka membantu Arief sejak mengolah tanah hingga mengemas hasil panen. Arief menerapkan suasana kekeluargaan dalam mengelola kebunnya.

Pasang surut
Pria kelahiran Yogyakarta 36 silam tak selamanya menuai untung. Ketika krisis ekonomi melanda Indonesia pada 1997-1998, terpaan badai juga menghantam kebun tomatnya.Harga sarana produksi pertanian melangit. Pestisida dan pupuk kimia naik 2 kali lipat, sedangkan harga jual tetap. Oleh karena itu ia berhenti berproduksi. Kerugian mencapai miliaran rupiah. "Bila saya menjual seluruh aset tidak mampu menutupi kerugian," ujar pehobi sepakbola itu.

Menjelang Idul Fitri 2003 harga kerabat kentang itu anjlok mencapai Rp200/kg. Penanaman seluas 10 ha dengan produksi 55-70 ton per ha hanya bisa menutup biaya panen dan pemetikan. Saat itu terpaksa tanaman tomat seluas 3 ha dibabat habis, padahal baru panen perdana.

Gempuran Phytophthora infestans juga pernah menerpa pada 2002. Produksi per tanaman tidak mencapai 1 kg. Toh, beberapa kendala yang dihadapi tidak menyurutkan semangat ayah 2 putra itu. Kecintaannya bertani sudah mendarah daging. Bahkan menanam tomat seakan sudah menjadi kewajiban dalam hidupnya. "Untuk itu apa pun yang akan dihadapi kita mesti siap," katanya.

Tak hanya produksi tinggi yang dikejar, kualitas produk juga tetap dijaga. Ia menerapkan pertanian organik meski belum secara keseluruhan. Untuk pestisida pria 36 tahun itu memanfaatkan formulasi yang mengandung spora trichoderma dan glyricidium.

Setelah penggunaan ramuan kedua jasad renik itu, pemakaian pupuk kimia berkurang 10 kali lipat. Sayangnya keinginan untuk menerapkan sistem organik secara total menghadapi batu sandungan. Penyebabnya keterbatasan bahan baku, seperti pestisida hanya cukup untuk sebagian lahan saja. "Kita menyambut anjuran pemerintah untuk berorganik, tetapi di lapangan menghadapi banyak kendala," ujar anak ke 3 dari 7 bersaudara itu. Setelah menerapkan sistem organik produksi meningkat. Tanaman tomat juga lebih tahan terhadap hama dan penyakit.

Bersama sayuran buah itulah Arief bertahan selama 10 tahun di desa terpencil. Ia tak sekadar meraup keuntungan tetapi juga menjaga lingkungan agar bisa lebih lama berdiam di kesenyapan kaki Gunung Pangrango dan menanam tomat. (Pupu Marfu'ah)


Produktivitas tinggi dengan biaya rendah

Bentuk lonjong disukai pasar


INFORMASI HARGA

DI PASAR HARI Jum"at
NAMA PETUGAS TANGGAL : 31/01/2005
MINGGU KE : 4 (empat)

HARGA MINGGU LALU HARGA MINGGU INI PERBEDAAN
No JENIS KOMODITI SATUAN BORONGAN ECERAN BORONGAN ECERAN HARGA (Rp)
(Rp) (Rp) (Rp) (Rp)
1 2 3 4 5 6 7 8

I 9 BAHAN POKOK

1 Beras
* NNB Vietnam 5 % 25 Kg 76,000 78,000 2,000
* Cap anak terbang 25 Kg 88,000 90,000 2,000
* Cap Rambutan 25 Kg 89,000 90,000 1,000
* Pth wangi Cap lonceng 25 Kg 95,000 105,000 10,000
* Vietnam 25 % 25 Kg 90000 92,000 2,000

2 Gula Pasir
* Halus (luar Negeri) 50 kg 197,000 205,000 8,000
* Kasar 50 kg 197,000 205,000 8,000

3 Minyak Goreng
* Curah / tanpa merk 1 kg 5,000 5,000
* Filma liter 7,000 7,000
* Bimoli liter 7,000 7,000
* Delima / Sania liter 0 0

4 Tepung terigu
* Segitiga biru 1 kg 4,000 4,500 500
* Cap lencana 1 kg 3,800 3,000 800

5 Mentega
Blue Band kg 16,000 16,000
Amanda kg 0 5,000
Kiloan / tanpa merk kg 4,500 5,000

6 Daging
* Sapi murni kg 43,000 45,000
* Sapi beku kg 33,000 24,000 8,000
* Ayam ras kg 14,000 15,000 1,000

7 Telur
* Ayam Ras ikat 75,000 70,000 5,000
* Ayam kampung kg 0 0

8 Susu kental manis
* Indomelk kaleng 4,500 4,500
* Bendera kaleng 5,000 4500
* Prenjak kaleng 3,500 3,500
* Nona kaleng 4,000 4,000

Susu Bubuk
* Dancow 800gr. 27,000 27,000
* Bendera kg 35,000 35,000

9 Minyak
* Tanah liter 1,000 1,000

10 Garam
* Garam beryodium 250 gr 1,000
* halus cap bunga 500 gr 1,000 1,000

11 Ikan asin / Teri
* Teri Medan 1 kg 38,000 36,000 2000
* Teri Pinang (kupas) kg 35,000 32,000 3000
* Teri Bluayam kg 20000 18,000 2000




HARGA MINGGU LALU HARGA MINNGU INI PERBEDAAN
No JENIS KOMODITI SATUAN BORONGAN ECERAN BORONGAN ECERAN HARGA (Rp)
(Rp) (Rp) (Rp) (Rp)
1 2 3 4 5 6 7 8

II HASIL PERTANIAN

1 Cabe
* merah keriting kg 14,000 14,000
* Cabe hijau kg 13,000 12,000 1,000
* Rawit kg 13,000 10,000 3,000

2 Bawang
* Merah jawa kg 6,500 4,000 1,500
* Merah Thailand kg 6,000 4,000 2,000
* Merah Birma kg 4,500 5,500 1,000
* Bombay kg 4,500 4,000 500
* Putih kg 5,000 4,500 500

3 Kacang-kacangan
* Kacang kedele kg 5,000 5,000
* Kacang Hitam kg 5,000 0 -
* Kacang Hijau kg 5,000 7,000 2,000
* Kacang tanah kg 7,000 8,000 1,000
* Kacang Merah kg 6,500 3,000 3,500

4 Sayur-sayuran
* Tomat kg 7,000 5,000 2,000
* Wortel kg 6,500 5,500 500
* Bayam kg 7,000 1,000 6,000
* Kangkung kg 5,000 1,000 4,000
* Sawi kg 6,000 1,000 5,000
* Kentang kg 5,000 4,000 1,000
* Buncis kg 7,000 6,000 1,000
* Kol kg 3,500 2,500 1,000
* Bunga Kol kg 11,000 10000 1,000
* Kacang Panjang kg 6,000 3,000 3,000
SUMBER : DISPERINDAG KOTA BATAM





( Lycopersicon esculentum Mill. )

I. UMUM
1.1. Sejarah Singkat
Kata tomat berasal dari bahasa Aztek, salah satu suku Indian yaitu xitomate atau xitotomate. Tanaman tomat berasal dari negara Peru dan Ekuador, kemudian menyebar ke seluruh Amerika, terutama ke wilayah yang beriklim tropik, sebagai gulma. Penyebaran tanaman tomat ini dilakukan oleh burung yang makan buah tomat dan kotorannya tersebar kemana-mana. Penyebaran tomat ke Eropa dan Asia dilakukan oleh orang Spanyol. Tomat ditanam di Indonesia sesudah kedatangan orang Belanda. Dengan demikian, tanaman tomat sudah tersebar ke seluruh dunia, baik di daerah tropik maupun subtropik.
1.2. Sentra Penanaman
Sentra penanaman tomat di dunia adalah di Taiwan, sedangkan di Indonesia adalah daerah Malang.
1.3. Jenis Tanaman
Tanaman tomat termasuk tanaman semusim yang berumur sekitar 4 bulan.
Klasifikasi tanaman tomat adalah sebagai berikut:
Divisi : Spermatophyta
Anak divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Solanales
Famili : Solanaceae
Genus : Lycopersicon (Lycopersicum)
Species : Lycopersicon esculentum Mill.
Dari sekian banyak varietas tomat yang ada, yang banyak ditanam petani adalah tomat varietas ratna, berlian, precious 206, kingkong dan intan. Sedangkan dari hasil survei yang telah dilakukan di lapangan varietas yang digunakan adalah varietas Artaloka.
1.4. Manfaat Tanaman
Tomat sangat bermanfaat bagi tubuh karena mengandung vitamin dan mineral yang diperlukan untuk pertumbuhan dan kesehatan. Buah tomat juga mengandung karbohidrat, protein, lemak dan kalori. Buah tomat juga adalah komoditas yang multiguna berfungsi sebagai sayuran, bumbu masak, buah meja, penambah nafsu makan, minuman, bahan pewarna makanan, sampai kepada bahan kosmetik dan obat-obatan.

II. SYARAT PERTUMBUHAN
2.1. Iklim
a. Curah hujan yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman tomat adalah 750 mm-1.250 mm/tahun. Keadaan ini berhubungan erat dengan ketersediaan air tanah bagi tanaman, terutama di daerah yang tidak terdapat irigasi teknis. Curah hujan yang tinggi (banyak hujan) juga dapat menghambat persarian.
b. Kekurangan sinar matahari menyebabkan tanaman tomat mudah terserang penyakit, baik parasit maupun non parasit. Sinar matahari berintensitas tinggi akan menghasilkan vitamin C dan karoten (provitamin A) yang lebih tinggi. Penyerapan unsur hara yang maksimal oleh tanaman tomat akan dicapai apabila pencahayaan selama 12-14 jam/hari, sedangkan intensitas cahaya yang dikehendaki adalah 0,25 mj/m2 per jam.
c. Suhu udara rata-rata harian yang optimal untuk pertumbuhan tanaman tomat adalah suhu siang hari 18-29 derajat C dan pada malam hari 10-20 derajat C.
d. Kelembaban relatif yang tinggi sekitar 25% akan merangsang pertumbuhan untuk tanaman tomat yang masih muda karena asimilasi CO2 menjadi lebih baik melalui stomata yang membuka lebih banyak. Tetapi, kelembaban relatif yang tinggi juga merangsang mikro organisme pengganggu tanaman.
2.2. Media Tanam
a. Tanaman tomat dapat ditanam di segala jenis tanah, mulai tanah pasir sampai tanah lempung berpasir yang subur, gembur, banyak mengandung bahan organik serta unsur hara dan mudah merembeskan air. Selain itu akar tanaman tomat rentan terhadap kekurangan oksigen, oleh karena itu air tidak boleh tergenang.
b. Tanah dengan derajat keasaman (pH) berkisar 5,5-7,0 sangat cocok untuk budidaya tomat.
c. Dalam pembudidayaan tanaman tomat, sebaiknya dipilih lokasi yang topografi tanahnya datar, sehingga tidak perlu dibuat teras-teras dan tanggul.
2.3. Ketinggian Tempat
Tanaman tomat dapat tumbuh di berbagai ketinggian tempat, baik di dataran tinggi maupun di dataran rendah, tergantung varietasnya. Tanaman tomat yang sesuai untuk ditanam di dataran tinggi misalnya varietas berlian, varietas mutiara, varietas kada. Sedangkan varietas yang sesuai ditanam di dataran rendah misalnya varietas intan, varietas ratna, varietas berlian, varietas LV, varietas CLN. Selain itu, ada varietas tanaman tomat yang cocok ditanam di dataran rendah maupun di dataran tinggi antara lain varietas tomat GH 2, varietas tomat GH 4, varietas berlian, varietas mutiara.

III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
3.1. Pembibitan
3.1.1. Persyaratan Benih
Kriteria-kriteria teknis untuk seleksi biji/benih tanaman tomat adalah:
a) Pilih biji yang utuh, tidak cacat atau luka, karena biji yang cacat biasanya sulit tumbuh.
b) Pilih biji yang sehat, artinya biji tidak menunjukkan adanya serangan hama atau penyakit.
c) Benih atau biji bersih dari kotoran.
d) Pilih benih atau biji yang tidak keriput.
3.1.2. Penyiapan Benih
Pengadaan benih tomat dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu dengan cara membeli benih yang telah siap tanam atau dengan membuat benih sendiri. Apabila pengadaan benih dilakukan dengan membeli, hendaknya membeli pada toko pertanian yang terpercaya menyediakan benih-benih yang bermutu baik dan telah bersertifikat.
3.1.3. Teknik Penyemaian Benih
Benih atau biji-biji tomat yang telah terpilih sebelum disemaikan didesinfektan. Caranya, dengan merendam benih kedalan larutan fungisida agar mikroorganisme yang dapat menimbulkan penyakit mati.
Ada beberapa cara menyemai pada bedeng persemaian. Cara pertama, benih tomat ditaburkan merata pada permukaan bedeng, kemudian ditutup tanah tipis-tipis. Bedeng dibuat guritan sedalam 1 cm dengan jarak antar guritan 5 cm, lalu biji ditaburkan kedalan guritan secara merata dan tidak saling tumpuk, kemudian ditutup kembali dengan tanah tipis-tipis. Cara kedua, dengan menanamkan benih pada lubang-lubang tanam yang dibuat dengan jarak 5 cm dan kedalaman lubang tanam sekitar 1 cm. Dalam satu lubang tanam dapat diisikan 1 atau 2 benih, kemudian ditutup tanah tipis-tipis. Cara ketiga, penyemaian dapat langsung dilakukan pada kantong-kantong polybag yang telah diisi media tanam berupa tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1. Setiap kantong polybag diisi satu benih saja dan tanamkan benih dengan kedalaman sekitar 1 cm. Setelah biji ditanam, media semai sebaiknya dibasahi dengan air.
3.1.4. Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian
Selama awal pertumbuhan, pemeliharaan bibit tanaman di persemaian harus dilakukan secara intensif dengan pengawasan kontinyu. Pemeliharaan bibit meliputi kegiatan-kegiatan:
a. Penyiraman
Penyiraman dilakukan sejak benih ditaburkan ke bedeng pesemaian sampai tanaman siap dipindah ke kebun. Penyiraman dilakukan 2 kali sehari, yaitu pagi dan sore hari. Penyiraman sebaiknya dilakukan dengan menggunakan alat/gembor yang memiliki lubang halus, agar tidak merusak bibit tanaman yang sudah atau baru tumbuh.
b. Penyiangan
Penyiangan dapat dilakukan dengan cara langsung mencabuti tanaman pengganggu tanpa peralatan. Penyiangan sebaiknya dilakukan seperlunya saja dengan melihat keadaan tanaman.
c. Pemupukan
Pada media persemaian selain diberikan pupuk kandang, sebaiknya juga diberikan pupuk kimia NPK secukupnya sebagai pupuk tambahan yang diberikan setelah benih tumbuh menjadi bibit.
d. Pencegahan dan pemberantasan hama penyakit
Hama yang umumnya menyerang benih atau bibit di pesemaian berasal dari golongan serangga, seperti semut dan golongan nematoda, seperti cacing tanah. Penyakit yang sering menyerang dari golongan cendawan. Untuk mencegah berkembangnya hama dan penyakit dapat dilakukan sterilisasi tanah. Untuk memberantas hama dan penyakit yang menyerang dapat disemprotkan obat-obatan. Insektisida untuk memberantas hama dari golongan serangga dan fungisida untuk memberantas penyakit yang disebabkan oleh golongan jamur. Nama-nama formulasi yang dapat digunakan antara lain Furadan 3 g, Dithane Hostathion dan Antracol.
3.1.5. Pemindahan Bibit
Bibit tomat dapat dipindahkan ke kebun setelah berumur 30-45 hari di persemaian. Pada saat dilakukan penanaman ke kebun, sebaiknya dilakukan lagi terhadap bibit-bibit yang telah berumur 30-45 hari agar diperoleh tanaman yang baik pertumbuhannya dan memiliki daya produktivitas tinggi dalam menghasilkan buah. Untuk itu, bibit yang dipilih sebaiknya yang berpenampilan menarik dan baik., yaitu penampakannya segar dan daun-daunnya tidak rusak. Pilihlah bibit yang kuat, yaitu tegak pertumbuhannya dan pilihlah bibit yang sehat, artinya bibit tidak terserang hama dan penyakit.
Waktu yang baik untuk menanam bibit tomat di kebun adalah pagi atau sore hari. Pada saat itu keadaan cuaca belum panas sehingga mencegah kelayuan pada tanaman.
Ketika memindah bibit di kebun, hendaknya memperhatikan cara-cara yang baik dan benar. Pemindahan bibit yang ceroboh dapat merusak perakaran tanaman, sehingga pada saat bibit telah ditanam maka akan mengalami hambatan dalam pertumbuhan bahkan mati.
Ada beberapa cara pemindahan bibit dari persemaian yaitu :
a. Sistem cabut, yakni bibit yang telah tumbuh di persemaian dan cukup umur dicabut dengan hati-hati. Namun, sebelum dilakukan pencabutan bedeng persemaian harus dibasahi dengan air untuk memudahkan pencabutan dan tidak merusak akar.
b. Sistem putaran, yaitu bibit diambil beserta tanahnya. Namun, sebelum bibit diambil tanah dibasahi dengan air telebih dahulu.
Kedua cara tersebut terutama ditujukan untuk pembibitan yang secara langsung dilakukan pada bedeng tanah persemaian sedangkan untuk bibit yang disemaikan dalam bumbung atau polybag cara pemindahannya adalah basahi bumbung terlebih dahulu, kemudian keluarkan bibit dari bumbung beserta tanahnya dengan menyobek kantong polybag.
3.2. Pengolahan Media Tanam
3.2.1. Persiapan
Pengolahan tanah untuk penanaman bibit di kebun produksi harus memperhitungkan waktu, antara lain lamanya bibit di persemaian hingga dapat dipindah ditanam ke kebun dengan lamanya proses pengolahan tanah sampai siap tanam. Lamanya waktu pembibitan sekitar 30-45 hari, sedangkan lamanya pengolahan tanah yang intensif sampai siap tanam adalah 21 hari. Oleh karena itu, agar tepat waktu penanamannya di kebun, jadwal pengolahan tanahnya sebaiknya dilakukan 1-2 minggu setelah benih disemaikan.
3.2.2. Pembukaan Lahan
Pengolahan tanah yang intensif pada dasarnya melalui 3 tahap.
a. Tahap pertama adalah membalik agregat tanah sehingga tanah yang berada pada lapisan dalam dapat terangkat ke permukaan. Pengolah tanah tahap ini sebaiknya dilakukan dengan bajak yang ditarik oleh tenaga hewan atau dengan menggunakan traktor. Tanah diolah dengan kedalaman 25 cm-30 cm. Setelah dibajak, tanah dibiarkan selama 1 minggu agar bongkahan-bongkahan tanah hasil pembajakan cukup terkena angin, terkena cahaya matahari, dan supaya terjadi proses oksidasi (pemasaman) zat-zat beracun dari dalam tanah seperti asam sulfida yang sangat membahayakan kehidupan tanaman.
b. Tahap kedua, tanah digemburkan dengan cara dicangkul tipis-tipis sehingga diperoleh struktur tanah yang gembur atau remah, sekaligus untuk meratakannya. Selanjutnya, tanah hasil pengolahan tahap ini dibiarkan selama 1 minggu.
c. Tahap ketiga, dilakukan pemupukan dasar dengan pupuk kandang yang masak sebanyak 15-20 ton/ha. Pemberian pupuk kandang yang belum masak dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman, bahkan dapat mematikan tanaman karena akar tanaman tidak kuat menahan panas. Pada tahap ini, tanah yang telah ditaburi pupuk kandang dicangkul kembali tipis-tipis dan diratakan.
3.2.3. Pembentukan Bedengan
Setelah pengolahan tanah selesai dilakukan, selanjutnya dibuat bedeng-bedeng membujur ke arah Timur Barat agar penyebaran cahaya matahari dapat merata ke seluruh tanaman. Disamping pembuatan bedeng, juga dibuat parit-parit atau selokan untuk irigasi. Bedengan dapat dibuat lebar dengan ukuran lebar 1-1,2 m, panjang disesuaikan dengan keadaan lahannya dan tinggi bedeng 30 cm. Jika penanaman tomat dilakukan pada musim penghujan, bedengan dapat dibuat lebih tinggi yaitu 40-45 cm. Sedangkan ukuran parit dibuat lebar 20-30 cm dan kedalamannya 30 cm. Dengan demikian jarak antar bedeng adalah 20-30 cm. Kemudian pada sekeliling petak-petak bedengan dibuat saluran pembuangan air dengan ukuran lebar 50 cm, dan kedalamannya 50 cm.

3.2.4. Pengapuran
Hal lain yang perlu diperhatikan dalam pengolahan lahan atau penyiapan lahan adalah pengapuran pada tanah-tanah yang terlalu asam dan tidak sesuai dengan persyaratan tumbuh tanaman. Pengapuran ini diberikan bersamaan dengan saat pengolahan tanah, sebab pada umumnya akar tanaman tidak kuat terhadap pengapuran secara langsung, tanaman dapat menderita gangguan pertumbuhan bahkan dapat mati. Kapur yang dapat digunakan adalah kapur tohor, kapur karbonat, atau kapur tembok. Pengapuran, selain menaikkan nilai pH tanah juga dapat memperbaiki struktur tanah, mendorong aktivitas mikroorganisme tanah dalam membantu proses penguraian bahan organik tanah dan menurunkan zat yang bersifat racun tanpa menghilangkan zat-zat penting yang lain. Dosis pengapuran harus memperhatikan nilai pH tanah setempat.
3.2.5. Pemupukan
Sebelum tanaman tomat ditanam, lahan harus diberi pupuk dasar. Pemupukan dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu:
a. Kompos atau pupuk kandang yang telah jadi tanah dan TSP ditabur secara merata ke seluruh bedengan. Selanjutnya, tanah dicangkul sampai homogen agar kompos atau pupuk kandang dan TSP tercampur merata dengan tanah.
b. Pada jarak yang telah ditentukan dibuat lubang sedalam + 15 cm dan bergaris tengah + 20 cm. Lubang-lubang tersebut kemudian diberi pupuk kandang atau kompos sebanyak 0,5 kg (satu genggam besar) dan diberi TSP sebanyak + 5 gram. Lubang ditimbun tanah, kemudian diaduk-aduk sehingga kompos atau pupuk kandang, TSP dan tanah tercampur rata.
3.2.6. Pemberian Mulsa
Dewasa ini penggunaan plastik hitam-perak sebagai mulsa (penutup tanah) telah banyak dipergunakan oleh para petani. Penggunaan plastik hitam-perak sebagai mulsa lebih praktis dibandingkan dengan penggunaan sisa-sisa tanaman yang telah mati, misalnya jerami padi.
3.3. Teknik Penanaman
3.3.1. Penentuan Pola Tanam
Tomat dapat ditanam dengan 2 macam jarak tanam yaitu dengan sistem dirempel dan sistem bebas.
a. Sistem dirempel
Jarak tanam sistem ini adalah 50 cm x 50 cm atau 60 cm x 60 cm, bujur sangkar atau segitiga sama sisi. Cara menanam dengan sistem ini maksudnya yaitu tunas-tunas yang tumbuh diambil (dipotong) sedini mungkin, sehingga tanaman hanya memiliki satu batang tanpa cabang.
b. Sistem bebas
Ukuran jarak tanam sistem bebas adalah 80 cm x 100 cm; 80 cm x 80 cm; 80 cm x 100 cm; 100 cm x 100 cm. Bentuk yang digunakan dapat berupa bujur sangkar, segipanjang atau segitiga sama sisi. Selain itu dapat juga dibuat antar barisan berjarak 100 cm, dan dalam barisan berjarak 50-60 cm. Cara menanam dengan sistem ini bertujuan membiarkan tunas-tunas yang tumbuh menjadi cabang-cabang besar dan dapat berubah.
3.3.2. Pembuatan Lubang Tanam
Bedengan yang telah dipersiapkan untuk penanaman bibit, sehari sebelumnya hendaknya diairi terlebih dahulu supaya basah. Kemudian pada bedeng yang telah tertutup mulsa plastik dibuat lubang tanam dengan diameter 7-8 cm sedalam 15 cm. Lubang-lubang tanam dibuat sesuai dengan jarak tanam yang telah ditentukan.
3.3.3. Cara Penanaman
Penanaman dapat dilakukan pada musim kemarau dan musim hujan. Apabila penanaman dilakukan pada musim kemarau pakailah mulsa plastik hitam perak atau kertas alumunium.Mulsa tersebut harus sudah dipasang di bedengan sebelum bibit ditanam. Apabila tomat ditanam pada musim hujan pasanglah lebih dahulu atap plastik transparan (tembus cahaya) pada bedengan yang akan ditanami.
3.4. Pemeliharaan Tanaman
3.4.1. Penjarangan dan Penyulaman
Penyulaman adalah mengganti tanaman yang mati, rusak atau yang pertumbuhannya tidak normal, misalnya tumbuh kerdil. Penyulaman sebaiknya dilakukan seminggu setelah tanam. Namun jika satu minggu sudah terlihat adanya tanaman yang mati, layu, rusak atau pertumbuhannya tidak normal, penyulaman sebaiknya segera dilakukan. Hal lain yang juga harus diperhatikan dalam penyulaman adalah bibit yang digunakan. Bibit yang digunakan untuk menyulam diambil dari bibit cadangan yang telah dipersiapkan sebelumnya bersamaan dengan bibit lain yang bukan bibit cadangan.
Cara penyulamannya adalah apabila tanaman yang telah mati, rusak, layu, atau pertumbuhannya tidak normal dicabut, kemudian dibuat lubang tanam baru ditempat tanaman terdahulu, dibersihkan dan diberi Furadan 0,5 gram bila dipandang perlu. Setelah itu, bibit yang baru ditanam pada tempat tanaman terdahulu dengan cara penanaman bibit terdahulu.
3.4.2. Penyiangan
Gulma yang tumbuh di areal penanaman tomat harus disiangi agar tidak menjadi pesaing dalam mengisap unsur hara. Gulma yang terlalu banyak akan mengurangi unsur hara sehingga tanaman tomat menjadi kerdil. Gulma juga dapat menjadi sarang hama dan penyakit yang akan menyerang tanaman tomat. Pemberian mulsa plastik atau daun-daunan akan mengurangi gulma.
Waktu penyiangan dapat dilakukan 3-4 kali tergantung kondisi kebun.
3.4.3. Pembubunan
Tujuan pembubunan adalah memperbaiki peredaran udara dalam tanah dan mengurangi gas-gas atau zat-zat beracun yang ada di dalam tanah sehingga perakaran tanaman akan menjadi lebih sehat dan tanaman akan menjadi cepat besar. Tanah yang padat harus segera digemburkan. Pembubunan dilakukan dengan hati-hati dan tidak terlalu dalam agar tidak merusak perakaran tanaman. Luka pada akar akan menjadi tempat penyakit yang berbahaya.
3.4.4. Perempalan
a. Tunas yang tumbuh di ketiak daun harus segera dirempel/dipangkas agar tidak menjadi cabang. Perempalan paling lambat dilakukan 1 minggu sekali. Pada tanaman tomat yang tingginya terbatas, perempalannya harus dilakukan dengan hati-hati agar tunas terakhir tidak ikut dirempel supaya tanaman tidak terlalu pendek.
b. Perempalan yang baik dilakukan pada pagi hari agar luka bekas rempalan cepat kering dengan cara: ujung tunas dipegang dengan tangan yang bersih, lalu digerakkan ke kanan kiri sampai tunas tersebut lepas. Apabila terlambat merempel, tunas akan cabang yang besar dan sukar putus.
c. Tunas yang terlanjur menjadi cabang besar harus dipotong dengan pisau atau gunting tajam yang bersih.
d. Ketinggian tanaman tomat dapat dibatasi dengan memotong ujung tanaman apabila jumlah dompolan buah sudah mencapai 5-7 buah.
3.4.5. Pemupukan
Pemupukan bertujuan merangsang pertumbuhan tanaman. Tata cara pemupukan adalah:
a. Setelah tanaman hidup sekitar 1 minggu setelah ditanam, harus segera diberi pupuk buatan. Dosis pupuk Urea dan KCl dengan perbandingan 1:1 untuk setiap tanaman antara 1-2 gram. Pemupukan dilakukan di sekeliling tanaman pada jarak ± 3 cm dari batang tanaman tomat kemudian pupuk ditutup tanah dan disiram dengan air. Pupuk Urea dan KCl tidak boleh mengenai tanaman karena dapat melukai tanaman.
b. Pemupukan kedua dilakukan ketika tanaman berumur 2-3 minggu sesudah tanam berupa campuran Urea dan KCl sebanyak ± 5 gr. Pemupukan dilakukan di sekeliling batang tanaman sejauh ± 5 cm dan dalamnya ± 1 cm kemudian pupuk ditutup tanah dan disiram dengan air.
c. Bila pada umur 4 minggu tanaman masih kelihatan belum subur dapat dipupuk lagi dengan Urea dan KCl sebanyak 7 gram. Jarak pemupukan dari batang dibuat makin jauh yaitu ± 7 cm.
3.4.6. Penyiraman dan Pengairan
Kebutuhan air pada budidaya tanaman tomat tidak terlalu banyak, namun tidak boleh kekurangan air. Pemberian air yang berlebihan pada areal tanaman tomat dapat menyebabkan tanaman tomat tumbuh memanjang, tidak mampu menyerap unsur-unsur hara dan mudah terserang penyakit. Kelembaban tanah yang tinggi dapat mendorong pertumbuhan dan perkembangan patogen sehingga tanaman tomat dapat mati keracunan karena kandungan oksigen dalam tanah berkurang. Pori-pori yang terisi oleh air mendesak oksigen keluar dari dalam tanah sehingga tanah menjadi anaerob yang menyebabkan proses oksidasi berubah menjadi proses reduksi. Keadaan tanah yang demikian menyebabkan kerontokan bunga dan menyebabkan pertumbuhan vegetatif berlebihan sehingga mengurangi pertumbuhan dan perkembangan generatif (buah).
Kekurangan air yang berkepanjangan pada pertanaman tomat dapat mengganggu pertumbuhan tanaman pada stadia awal, mengakibatkan pecah-pecah pada buah apabila kekurangan air terjadi pada stadia pembentukan hasil dan dapat menyebabkan kerontokan bunga apabila kekurangan air terjadi selama periode pembungaan.
3.4.7. Pemasangan Ajir
Pemasangan ajir dimaksudkan untuk mencegah tanaman tomat roboh. Hal-hal yang perlu diperhatikan:
a. Ajir (lanjaran) terbuat dari bambu atau kayu dengan panjang antara 100-175 cm, tergantung dari varietasnya.
b. Pemasangan ajir dilakukan sedini mungkin, ketika tanaman masih kecil akar masih pendek, sehingga akar tidak putus tertusuk ajir. Akar yang luka akan memudahkan tanaman terserang penyakit yang masuk lewat luka. Jarak ajir dengan batang tomat ± 10-20 cm.
c. Cara memasang ajir bermacam-macam, misalnya ajir dibuat tegak lurus atau ujung kedua ajir diikat sehingga membentuk segitiga. Agar tidak dimakan rayap, ajir diolesi dengan ter atau minyak tanah.
d. Tanaman tomat yang telah mencapai ketinggian 10-15 cm harus segera diikat pada ajir. Pengikatan jangan terlalu erat yang penting tanaman tomat dapat berdiri. Pengikatan dilakukan dengan model angka 8 sehingga tidak terjadi gesekan antara batang tomat dengan ajir yang dapat menimbulkan luka. Tali pengikat, misalnya tali plastik harus dalam keadaan bersih. Setiap bertambah tinggi ± 20 cm, harus dilakukan pengikatan lagi agar batang tomat selalu berdiri tegak.
3.5. Hama dan Penyakit
3.5.1 Hama
a. Ulat buah tomat (Heliothis armigera Hubner)
Ciri: panjang ulat ± 4 cm dan akan makin panjang pada temperatur rendah. Warna ulat bervariasi dari hijau, hijau kekuning-kuningan, hijau kecoklat-coklatan, kecoklat-coklatan sampai hitam. Pada badan ulat bagian samping ada garis bergelombang memanjang, berwarna lebih muda. Pada tubuhnya kelihatan banyak kutil dan berbulu. Telur berbentuk bulat berwarna kekuning-kuningan mengkilap dan sesudah 2-4 hari berubah warna menjadi coklat. Panjang sayap ngengat bila dibentangkan ± 4 cm dan panjang badan antara 1,5-2,0 cm. Sayap bagian muka berwarna coklat dan sayap belakang berwarna putih dengan tepi coklat. Gejala: ulat ini menyerang daun, bunga dan buah tomat. Ulat ini sering membuat lobang pada buah tomat secara berpindah-pindah. Buah yang dilubangi pada umumnya terkena infeksi sehingga buah menjadi busuk lunak. Pengendalian: (1) ngengat tertarik pada cahaya ultraviolet sehingga dengan sinar tersebut diadakan perangkap; (2) telur dan ulat adapat dikumpulkan dan dibakar atau dimatikan; (3) ditepi kebun ditanam jagung untuk mengurangi serangan pada tanaman tomat; (4) tanaman liar disekitar areal pertanaman tomat dibersihkan; (5) disemprot dengan insektisida misalnya Diazinon dan Cymbush.
b. Kutu daun apish hijau
Kutu ini termasuk famili Aphididae dari ordo Hemiptera yang sering disebut aphis tomat, aphis tembakau atau aphis kentang. Kutu hijau ini menjadi vektor (penyalur) virus sehingga tomat dapat terserang penyakit virus. Ciri: kutu ada yang bersayap dan ada yang tidak bersayap. Panjang kutu yang bersayap antara 2-2,5 mm, kepala dan dadanya berwarna coklat sampai hitam dan perutnya hijau kekuning-kuningan. Ukuran antena sepanjang badannya. Panjang kutu yang tidak bersayap antara 1,8-2,3 mm berwarna hijau kekuning-kuningan. Gejala: daun tomat yang diserang bentuknya jelek, keriting, kerdil, melengkung ke bawah, menyempit seperti pita, klorosis, mosaik dan daun menjadi rapuh. Pengendalian: (1) penggunaan mulsa kertas dapat mengusir kutu karena memantulkan sinar matahari; (2) tanaman liar maupun gulma di sekitar areal tanaman tomat harus dibersihakn krena dapat menjadi tempat berlindung kutu; (3) pengendalian secara mekanis dapat dilakukan dengan cara dipijit sehingga kutu aphis tersebut mati; (4) pengendalian secara kimiawi dapat dilakukan dengan penyemprotan insektisida.
c. Lalat putih (kutu kabut, kutu kepul)
Kutu ini termasuk famili Aleyrodidae dari ordo Hemiptera. Kutu ini bila terganggu akan berhamburan seperti kabut atau kepul putih. Ciri: Panjang kutu putih dewasa hanya ± 1 mm berwarna putih kekuning-kuningan, tertutup tepung seperti lilin putih, memiliki 2 pasang sayap berwarna putih dengan bentangan ± 2 mm, dan bermata merah. Lalat putih betina berukuran lebih besar daripada lalat jantan. Telur berbentuk elips sepanjang antara 0,2-0,3 mm. Panjang pulpa ± 0,7 mm, berbentuk oval serta datar dan badannya seperti sisik pada daun. Gejala: tanaman tomat yang terserang seperti diselimuti tepung putih yang bila dipegang akan berterbangan. Serangan mengakibatkan pertumbuhan tanaman terhambat/kerdil, daun mengecil, dan menggulung ke atas. Pengendalian: (1) digunakan musuh alami hama, misalnya beberapa jenis tabuhan yang merupakan parasit lalat putih dan beberapa jenis lembing guna memakan telur lalat putih; (2) gulma di sekitar tanaman tomat harus dibersihkan supaya tidak menjadi inang lalat putih; (3) tanaman tomat terserang virus harus segera dicabut dan dibakar; (4) pertanaman tomat dapat diberi mulsa jerami atau mulsa plastik kuning; (5) disemprot dengan Diazinon, Malathion, Azinpos-methyl dan lain-lain.
d. Kutu daun thrips
Kutu daun thrips termasuk famili Thripidae dari ordo Thysanoptera. Ciri: panjang thrips antara 1-1,2 mm, berwarna hitam, bergaris merah atau tidak bercak merah. Nimfa (thrips muda) berwarna putih atau putih kekuningan, tidak bersayap dan kadang-kadang berbercak merah. Thrips dewasa bersayap dan berambut berumbai-rumbai. Telur thrips berbentuk seperti ginjal atau oval. Gejala: Thrips mengisap cairan pada permukaan daun dimana daun yang telah diisap menjadi berwarna putih seperti perak karena udara masuk ke dalamnya. Bila terjadi serangan hebat, daun menjadi kering dan mati. Tanaman muda yang terserang akan layu dan mati. Pengendalian: (1) tanaman yang kekurangan air lebih banyak diserang thrips. Untuk itu, tanaman tomat harus disiram dengan air yang cukup; (2) gulma di areal tanaman tomat harus dibersihkan agar tidak menjadi tempat berlindung thrips; (3) disemprot dengan insektisida, misalnya Diazinon, Malathion dan Monocrotophos.
e. Lalat buah
Lalat ini termasuk famili Trypetidae (Tephritidae) dari ordo Diptera. Ciri: mempunyai sayap transparan sepanjang 5-7 mm, panjang badan 6-8 mm. Perut berwarna coklat muda dengan garis melintang berwarna coklat tua, dada berwarna coklat tua dengan bercak kuning atau putih. Belatung muda berwarna putih, tetapi bila dewasa berwarna kekuning-kuningan. Panjang belatung ± 1 cm. Belatung ini terletak di dalam daging buah. Telur lalat berukuran kecil-kecil, panjangnya ± 1,2 mm, kedua ujungnya runcing, dan berwarna putih. Gejala: buah tomat menjadi busuk karena terserang cendawan atau bakteri. Bila buah dibuka akan kelihatan ada berenga berwarna putih. Berenga dewasa berwarna kekuning-kuningan dan bila disentuh akan melenting sejauh ± 30 cm untuk menyelamatkan diri. Pengendalian: (1) pada waktu mencangkul, tanah harus dibalik dan dibiarkan beberapa hari sampai beberapa minggu agar terkena sinar matahari sehingga pupa lalat mati; (2) ditangkap dengan menggunakan umpan yang dapat memikat lalat jantan; (3) buah yang terserang segera dipetik dan dibakar; (4) gulma di daerah pertanaman tomat harus selalu dibersihkan.
f. Tungau bercak dua
Tungau ini termasuk famili Tetranychidae dari ordo Acarina, disebut tungau bercak dua karena pada punggungnya terdapat bercak yang letaknya sedikit ke samping dan berwarna hitam. Tungau ini memakan berbagai macam tanaman (kosmopolitan dan polyphag). Tungau ini terdapat dibalik permukaan daun dengan sarang labah-labahnya. Tungau ini dapat menularkan virus. Serangannya dapat terjadi pada musim kemarau. Ciri: bentuk luar tungau berbentuk lonjong, berkaki delapan, panjang antara 0,3-0,4 mm dan berwarna kuning pucat dengan bercak hitam pada kedua sisi samping punggung. Mulutnya dapat untuk menusuk dan mengisap cairan tanaman. Telurnya berukuran kecil-kecil bergaris tengah ± 0,15 mm. Gejala: daun dan tunas menguning, selanjutnya menjadi coklat dan kering. Pengendalian: (1) bila banyak hujan populasinya akan berkurang; (2) gulma di areal pertanaman tomat harus selalu dibersihkan; (3) menanam varietas tomat yang tahan tungau; (4) disemprot dengan Akarisida misalnya, Omite, Kelthane, Bubur Kalifornia atau dihembus dengan tepung belerang.
g. Tungau merah
Tungau ini termasuk famili Tetranychidae dari ordo Acarina., disebut tungau merah/hama merah karena daun tanaman yang diserangnya menjadi berwarna merah karat. Ciri: tungau berkaki 8 dan besarnya 0,3-0,5 mm. Tungau betina berwarna merah tua atau merah kecoklat-coklatan dengan beberapa bercak hitam. Kaki dan mulutnya kelihatan putih transparan. Kepala menjadi satu dengan dada. Mulutnya dapat untuk menusuk dan mengisap cairan dari sel tanaman. Selain itu mulut dapat juga menggigit dan menggergaji. Telurnya berukuran kecil, dengan diameter 0,15 mm, dan berwarna kuning pucat atau sedikit kemerahan. Gejala: daun menjadi bercak-bercak merah karat. Serangan sering terjadi pada musim kemarau. Serangan yang hebat menyebabkan tanaman menjadi kerdil. Dibalik daun tomat akan kelihatan anyaman benang halus yang merupakan sarang tungau. Selanjutnya, daun menjadi kering karena daun diisap cairannya. Pengendalian: (1) gulma di areal pertanaman tomat harus dibersihakan agar tidak menjadi tempat berlindung tungau; (2) menanam varietas tomat yang tahan tungau merah; (3) alami, tungau akan dimangsa oleh predatornya, yaitu thrips predator dan kumbang macan; (4) populasi tungau akan berkurang bila banyak turun hujan; (5) disemprot dengan akarisida, misalnya Omite, Kelthan, atau dihembus dengan tepung belerang.
h. Nematoda bengkak akar
Ciri: bentuk nematoda bisul akar seperti cacing kecil sepanjang antara 200-1000 m. Untuk mengamati hama ini harus digunakan mikroskop. Pada mulutnya terdapat stylet yang berbentuk seperti jarum runcing, untuk menusuk dan menarik kembali cairan dalam mulut. Ukuran badan nematoda betina sedikit lebih gemuk. Gejala: akar tanaman membengkak memanjang atau bulat, akibatnya tanaman (akar) akan mengalami kesulitan mengambil air dari tanah sehingga terjadi klorosis, yakni warna daun tidak normal, pertumbuhan terhambat, layu, buah kecil serta sedikit dan cepat menjadi tua. Serangan nematoda ini dapat mengurangi produksi sampai 50% atau lebih. Pengendalian: (1) dilakukan rotasi tanaman dengan Tagetes patula atau Tagetes ercta yang menghasilkan tiophen guna mematikan nematoda; (2) tanah dicangkul dan dibiarkan beberapa waktu agar terkena sinar matahari; (3) tanah digenangi air yang cukup lama supaya nematoda mati; (4) menggunakan bahan kimia Nematisida, misalnya Furadan, Curater, Petrofur, Indofuran, dan Temik; (5) menanam varietas tomat yang resisten; (6) tanaman yang terserang harus segera dicabut dan dibakar; (7) gulma di areal tamanan tomat dibersihkan; (8) diberi pupuk organik (pupuk kandang atau kompos).
3.5.2. Penyakit karena Cendawan
a. Penyakit layu fusarium
Infeksi terjadi lewat akar, kemudian menyerang jaringan pembuluh. Jaringan xylem yang terserang warnanya menjadi coklat dan serangan ini dengan cepat menuju ke atas. Aliran air ke daun akan terhambat sehingga daun akan layu dan menguning. Cendawa ini membentuk polipeptida (likomarasmin) yang menggangu permeabilitas membran plasma, sehingga perjalanan air dari bawah ke atas terhambat. Gejala: pada malam hari sampai pagi masih kelihatan segar, tetapi setelah ada sinar matahari dan terjadi penguapan, tanaman tersebut menjadi layu. Sore hari mungkin masih dapat segar lagi tetapi keesokan harinya mulai layu lagi. Akhirnya, tanaman layu akan mati. Pengendalian: (1) menanam varietas tomat yang resisten (tahan); (2) diberi mulsa plastik transparan untuk menaikkan suhu tanah agar penyakit fusarium mati; (3) menanam tanaman tomat di tanah yang bebas nematoda; (4) menggunakan alat yang bersih dari penyakit layu; (5) tanah yang telah ditanami tomat yang terserang penyakit layu tidak boleh ditanami tomat dalam waktu lama dan tidak boleh menanam tanman yang termasuk solanase; (6) tanaman yang layu harus segera dicabut dan dibakar; (7) tanaman tomat disambung dengan cepokak (Solanum torvum), atau terung engkol (Solanum macrocarpon).
b. Bercak daun septoria
Penyebab: cendawan Septoria Lycopersici Speg. yang merusak daun dan menyerang tanaman tomat yang masih muda ataupun tua. Gejala: terlihat bercak bulat kecil berair pada kedua permukaan daun dibagian bawah. Bercak tersebut berwarna coklat muda, kemudian menjadi kelabu dengan tepi kehitaman. Garis tengah bercak ± 2 mm. Serangan yang hebat menyebabkan daun tomat menggulung, mengering dan rontok. Pengendalian : (1) gulma dan sisa tanaman tomat yang telah mati dibersihkan dan dibakar, jangan dipendam dalam tanah; (2) dilakukan rotasi tanaman, dengan menanam tanaman lain yang berbeda famili; (3) menanam tanaman tomat yang resisten; (4) disemprot dengan fungisida misalnya, zineb dan maneb.
c. Penyakit kapang daun
Penyebab: cendawan Fulvia fulva (Cke) Cif. atau yang menyebut Cladosporum fulvus Cke. Gejala: mula-mula terlihat pada permukaan daun sebelah atas terdapat bercak pucat (klorosis) Dibawah daerah klorosis, dibalik daun, terbentuk spora-spora yang mula-mula berwarna kelabu muda kemudian menjadi coklat atau hijau kekuning-kuningan. Penyakit ini mula-mula menyerang daun-daun bagian bawah, kemudian menjalar ke daun sebelah atas dan akhirnya seluruh tanaman terserang dan mati. Pengendalian: (1) menanam tanaman tomat yang resisten; (2) jangan menanam pada waktu musim hujan; (3) disemprot dengan fungisida , misalnya Mancozeb (Dithane M-45), Benemyl; (4) pengendalian secara biologis dapat menggunakan Penicillium brevicompactum, Trichoderma viride, Hansfordia pulvinata, dan Acremonium spp.; (5) melakukan rotasi tanaman.
d. Penyakit bercak coklat
Penyebab: Alternaria solani Sor. Gejala: daun tomat yang terserang tampak bulat coklat atau bersudut, dengan diameter 2-4 mm, dan berwarna coklat sampai hitam. Bercak itu menjadi jaringan nekrosis yang mempunyai garis-garis lingkaran sepusat. Jaringan nekrosis ini dikelilingi lingkaran yang berwarna kuning (sel klorosis). Bila serangan mengganas, bercak akan membesar dan kemudian bersatu sehingga daun menjadi kuning, layu dan mati. Bunga yang terinfeksi akan gugur. Buah muda atau masak yang terserang penyakit ini menjadi busuk, berwarna hitam, dan cekung, serta meluas ke seluruh buah. Penyakit ini biasanya dimulai dari pangkal buah (ujung tangkai) yang berwarna coklat tua dan cekung, bergaris tengah 5-20 mm dan tertutup massa spora hitam seperti beledu. Pengendalian: (1) menanam biji yang bebas penyakit atau biji terdesinfeksi; (2) tanaman yang sakit segera dicabut dan dibakar; (3) bekas tanaman tomat, terung, kentang, dan tanaman yang termasuk Solanase tidak boleh dipendam di areal pertanaman tomat, tapi harus dikumpulkan di tempat lain dan dibakar; (4) melakukan rotasi tanaman; (5) penyiraman harus menggunakan air bersih yang tidak tercemar penyakit; (6) drainase harus diatur dengan baik agar tanaman tidak tergenang air; (7) gulma di areal pertanaman harus selalu dibersihkan; (8) pembibitan dan penanaman jangan terlalu rapat; (9) disemprot dengan carbamat, zineb atau maneb.
e. Penyakit busuk daun
Penyebab: cendawan Phytophthora infestans (Mont.) de bary. Gejala: daun tomat yang terserang berbercak coklat sam,pai hitam. Mula-mula pada ujung atau sisi daun, hanya tampak beberapa milimeter, tetapi akhirnya meluas sampai ke seluruh daun dan tangkai daun. Penyakit ini mulai menyerang pangkal buah, yang menimbulkan bercak berair yang berwarna hijau kelabu sampai coklat. Pengendalian: (1) tanaman yang telah terserang segera dicabut dan dibakar; (2) tanaman yang sakit tidak boleh dipendam di areal pertanaman tomat; (3) menanam varoetas tomat yang resisten; (4) melakukan rotasi tanaman; (5) tanah yang telah dicangkul dibiarkan beberapa waktu agar terkena sinar matahari; (6) disemprot dengan fungisida, misalnya Dithane M-45, Difolatan, zineb, propineb, atau maneb.
f. Penyakit busuk buah Rhizoctonia
Penyebab: cendawan Thanatephorus cucumeris (Frank) Donk. Gejala: muncul bercak cekung kecil berwarna coklat. Bercak ini membesar dan timbul lingkaran-lingkaran sepusat. Warna bercak menjadi coklat tua dan bagian tengahnya sering kali retak. Pengendalian: (1) air pengairan harus bersih dan bebas penyakit; (2) penanaman jangan terlalu dalam; (3) diberi lanjaran supaya buah tomat tidak menyentuh tanah; (4) diberi mulsa plastik transparan; (5) menanam varietas tomat yang resisten; (6) melakukan rotasi tanaman; (7) gulma dan sisa-sisa tanaman sakit harus dibersihkan dan dibakar; (8) disemprot dengan fungisida yang mempunyai bahan aktif chlorothalonil dengan interval 7-8 hari sekali untuk menanggulangi timbulnya penyakit busuk buah.
g. Busuk buah antraknosa
Penyebab: cendawan Colletotrichum coccodes (Wallr.) Hughes. Penyakit ini dapat menyerang buah, batang dan akar tanaman tomat. Gejala: buah tomat tampak ada bercak kecil berair, bulat dan cekung yang makin membesar, berwarna coklat, kelihatan ada lingkaran-lingkaran sepusat, dan kemudian menjadi hitam. Pada pangkal buah kelihatan ada bercak ungu yang terletak dekat tangkai. Bila serangan terjadi pada akar dan batang, warna jaringan cortex akan menjadi coklat dan daun menjadi layu. Pengendalian: (1) sisa tanaman sakit tidak boleh dipendam dalam tanah; (2) melakukan rotasi tanaman selama 1-2 tahun; (3) diberi mulsa dan lanjaran agar buah tidak menyentuh tanah; (4) menanam tanaman tomat yang resisten; (5) disemprot dengan fungisida yang mempunyai bahan aktif kaptafol.

3.5.3. Penyakit karena Bakteri
a. Penyakit layu (Lendir)
Penyebab: Pseudomonas solanacearum (E.F. Sm) E.F.Sm. Gejala: tanaman yang diserang penyakit ini lebih cepat layu. Tanaman yang telah terinfeksi, daunnya masih hijau tetapi kemudian tiba-tiba layu, terutama pucuk daun yang masih muda, dan daun bagian bawah menguning. Tanaman yang terinfeksi menjadi kerdil, daun menggulung ke bawah, dan kadang-kadang terbentuk akar adventif sepanjang batang tomat. Tanaman yang terserang biasanya akan roboh dan mati. Pengendalian: (1) melakukan rotasi tanaman dan tidak boleh menanam jenis-jenis tanaman yang termasuk famili Solanaceae; (2) gulma di areal pertanaman dibersihkan; (3) menanam varietas tomat yang resisten; (4) tanaman disambung dengan batang bawah cepokak; (5) tanaman disemprot dengan antibiotika; (6) tanaman yang sakit dicabut dan dibakar; (7) tanah yang telah dicangkul dibiarkan beberapa waktu agar cukup terkena sinar matahari.
b. Kerak bakteri, bercak bakteri
Gejala: adanya bercak berair kecil pada daun dan batang; bercak berair ini akan mengering, cekung dan berwarna coklat keabu-abuan garis tengah 1-5 mm; tanaman tomat yang terserang daun-daunnya mengeriting ke bawah dan mengering; batang yang terluka menyerupai kerak panjang dan berwarna keabu-abuan; daun yang terserang mengalami klorosis dan gugur; pada buah yang terserang mula-mula kelihatan bercak berair, kemudian berubah menjadi bercak bergabus. Pengendalian: (1)melakukan rotasi tanaman dengan tanaman yang berbeda famili; (2) menanam biji dari tanaman tomat yang sehat; (3) menanam tanaman tomat yang resisten; (4) tanaman yang sakit harus segera dicabut dan dibakar; (5) tanaman tomat yang mati tidak boleh dipendam dalam tanah; (6) menyiram tanaman dengan air yang bersih dan bebas penyakit.
Selain penyakit-penyakit diatas ada penyakit-penyakit yang disebabkan oleh virus seperti penyakit mosaik tomat, penyakit mosaik mentimun dan penyakit yang disebabkan oleh non-parasit (fisiologis) seperti penyakit busuk ujung buah, penyakit luka terbakar matahari, penyakit retak, penyakit kantong dan penyakit kelebihan dan kekurangan unsur hara. Penyakit yang menyerang tanaman tomat varietas Artaloka adalah penyakit busuk daun.
3.6. Panen
3.6.1. Ciri dan Umur Panen
Pemetikan buah tomat dapat dilakukan pada tanaman yang telah berumur 60-100 hari setelah tanam tergantung pada varietasnya. Varietas tomat yang tergolong indeterminatre memiliki umur panen lebih panjang, yaitu berkisar antara 70-100 hari setelah tanam baru bisa dipetik buahnya
Penentuan waktu panen hanya berdasarkan umur panen tanaman sering kali kurang tepat karena banyak faktor lingkungan yang mempengaruhinya seperti: keadaan iklim setempat dan tanah. Kriteria masak petik yang optimal dapat dilihat dari warna kulit buah, ukuran buah, keadaan daun tanaman dan batang tanaman, yakni sebagai berikut :
a) kulit buah berubah, dari warna hijau menjadi kekuning-kekuningan.
b) bagian tepi daun tua telah mengering.
c) batang tanaman menguning/mengering.
Waktu pemetikan (pagi, siang, sore) juga berpengaruh pada kualitas yang dipanen. Saat pemetikan buah tomat yang baik adalah pada pagi atau sore hari dan keadaan cuaca cerah. Pemetikan yang dilakukan pada siang hari dari segi teknis kurang menguntungkan karena pada siang hari proses fotosintesis masih berlangsung sehingga mengurangi zat-zat gizi yang terkandung. Disamping itu, keadaan cuaca yang panas di siang hari dapat meningkatkan temperatur dalam buah tomat sehingga dapat mempercepat proses transpirasi (penguapan air) dalam buah. Keadaan ini dapat dapat menyebabkan daya simpan buah tomat menjadi lebih pendek.
3.6.2. Cara Panen
Cara memetik buah tomat cukup dilakukan dengan memuntir buah secara hati-hati hingga tangkai buah terputus. Pemutiran buah harus dilakukan satu per satu dan dipilih buah yang sudah matang. Selanjutnya, buah tomat yang sudah terpetik dapat langsung dimasukkan ke dalam keranjang untuk dikumpulkan di tempat penampungan. Tempat penampungan hasil panen tomat hendaknya dipersiapkan di tempat yang teduh atau dapat dibuatkan tenda di dalam kebun.
3.6.3. Periode Panen
Pemetikan buah tomat tidak dapat dilakukan sampai 10 kali pemetikan karena masaknya buah tomat tidak bersamaan waktunya. Pemetikan buah tomat dapat dilakukan setiap selang 2-3 hari sekali sampai seluruh tomat habis terpetik.
3.7. Pascapanen
3.7.1. Pengumpulan
Buah tomat yang sudah dipetik dan terkumpul harus segera dibersihkan dari segala kotoran yang menempel dari permukaan kulitnya, baik berupa debu, percikan tanah, maupun sisa-sisa pestisida dan pupuk daun yang disemprotkan pada saat pemeliharaan tanaman. Buah tomat dapat dicuci dengan zat kimia pembersih kotoran dan residu pestisida, yaitu zat neutral cleaner brogdex dan britex wax. Dengan pencucian buah menjadi bersih dari segala kotoran dan terlindung dari kuman-kuman penyakit, serta dapat menurunkan temperatur dalam buah sehingga proses respirasi dalam buah dapat terhambat.
3.7.2. Penyortiran dan Penggolongan
Setelah buah tomat dibersihkan dari kotoran, maka selanjutnya yang harus dilakukan adalah penyortiran dan penggolongan. Penyortiran dilakukan dengan cara memisah-misahkan buah tomat yang berukuran besar dan sehat dari buah-buah tomat yang berukuran kecil dan sehat, buah-buah tomat yang berukuran besar atau kecil tetapi terdapt cacat atau tidak sehat.
3.7.3. Penyimpanan
Teknik penyimpanan untuk mempertahankan kesegaran buah tomat dalam waktu yang lama pada prinsipnya adalah menekan sekecil mungkin terjadinya respirasi (pernafasan) dan transpirasi (penguapan) sehingga menghambat terjadi enzymatis/biokimia yang terjadi dalam buah. Dengan demikian, kematangan buah dapat tertunda sampai beberapa hari.
Cara atau teknik penyimpanan buah tomat yaitu :
a) Penyimpanan dalam ruangan bertemperatur rendah (48-50 derajat F) dengan mengatur suhu ruangan (85-90%).
b) Penyimpanan dalam ruangan berventilasi tanpa pengatur suhu.
c) Penyimpanan dalam ruangan vakum (tanpa udara).
d) Penyimpanan dengan meredam kedalam air yang mengalir atau tidak mengalir.
e) Penyimpanan dengan timbunan es.
3.7.4. Pengemasan dan Pengangkutan
Pengemasan dan pengangkutan merupakan dua kegiatan yang berkaitan erat dalam usaha melindungi buah tomat dari kerusakan mekanis (gesekan atau benturan selama pengangkutan). Oleh karena itu, proses pengemasan dan pengangkutan harus dilakukan dengan baik dan hati-hati agar buah tomat yang telah dipertahankan mutunya pada tahapan pembersihan, penyortiran dan penggolongan, dan penyim-panan, masih tetap dapat dipertahankan pada tahapan pengemasan dan pengangkutan.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pengemasan adalah:
a) Alat pengemas harus bersih.
b) Alat pengemas sebaiknya terbuat dari bahan yang kuat tetapi ringan.
c) Pengemasan buah tomat tidak boleh melebihi daya tampung alat kemas.
d) Hindarkan paku yang menonjol keluar atau papan yang tidak rata didalam alat pengemas.
e) Berilah pelindung pada dasar dan tepi alat pengemas dengan bahan pelindung dari bahan jerami yang kering atau guntingan-guntingan kertas.
f) Alat kemas harus memiliki lubang-lubang ventilasi pada dindingnya.
g) Susunlah buah tomat serapi mungkin didalam alat pengemas sesuai dengan daya tampungnya.
h) Tutuplah peti pengemas dengan diikat atau dipaku agar kuat.

IV. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN
4.1. Analisis Usaha Budidaya
Perkiraaan analisis usaha budidaya tomat seluas 800 m2 per musim tanam (4 bulan); dengan jarak antar bedeng 40 cm, lebar bedeng 1 m dan panjang 10 m; varietas artaloka 1 pak; dilakukan pada tahun 1999 di daerah Bogor.


a. Biaya produksi
1. Sewa lahan 4 bulan
2. Bibit : benih 1 pak (1.500 biji)
3. Pupuk:
- Pupuk kandang: 4.125 kg @ Rp. 150,-
- TSP: 10 kg @ Rp. 1.800,-
- Urea: 5 kg @ Rp. 1.500,-
- Za: 10 kg @ Rp. 1.250,-
- KCl: 10 kg @ Rp. 1.650,-
4. Pestisida :
- ZPT: 10 cc
- Fungisida (Nemisfor): 1 kg
- Insektisida (Bravo): 30 cc
5. Alat : bambu untuk ajir 1500 batang
6. Tenaga kerja: s/d panen
7. Biaya tak terduga
Jumlah biaya produksi
b. Pendapatan 5.400 kg @ Rp. 1.600,-
c. Keuntungan
d. Parameter kelayakan usaha
1. B/C Ratio
Rp.
Rp.

Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.

Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.

Rp.
200.000,-
90.000,-

618.750,-
18.000,-
16.500,-
20.000,-
18.500,-

50.000,-
120.000,-
120.000,-
150.000,-
3.500.000,-
500.000,-
5.421.750,-
8.640.000,-
3.218.250,-

= 1,593

4.2. Gambaran Peluang Agribisnis
Buah tomat sebagai salah satu komoditas sayuran mempunyai prospek pemasaran yang cerah. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya buah tomat yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Potensi pasa buah tomat juga dapat dilihat dari harga yang terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat, sehingga membuka peluang lebih besar terhadap serapan pasar. Peningkatan jumlah penduduk,bpendidikan, kesadaran gizi dan meningkatnya pendapatan masyarakat juga akan meningkatkan kebutuhan buah tomat. Selain itu, meningkatnya kemajuan di bidang industri pengolahan akan berperan terhadap besarnya serapan pasar buah tomat dan meningkatnya kemajuan di bidang transportasi akan lebih menunjang pemasarannya.

V. STANDAR PRODUKSI
5.1. Ruang Lingkup
Standar ini meliputi kalsifikasi dan syarat mutu, cara pengujian mutu, cara pengambilan contoh dan cara pengemasan tomat.
5.2. Diskripsi
Standar mutu tomat segar tercantum pada Standar Nasional Indonesia SNI 01-3162-1992.
5.3. Klasifikasi dan Standar Mutu
Menurut jenis mutunya, tomat segar digolongkan dalam dua jenis mutu yaitu mutu I dan mutu II.
1. Keasaman sifat varietes: mutu I=seragam; mutu II=seragam.
2. Tingkat ketuaan: mutu I=tua, tidak terlalu lunak; mutu II =tua, tidak terlalu lunak.
3. Ukuran: mutu I=seragam; mutu II=seragam.
4. Kotoran: mutu I=tidak ada; mutu II=tidak ada.
5. Kerusakan (jml/jml) dalam %: mutu I=maks. 5; mutu II=maks. 10.
6. Busuk (jml/jml) dalam %: mutu I=maks. 1; mutu II=maks. 1.
5.4. Pengambilan Contoh
Contoh diambil secara acak dari sejumlah kemasan seperti tercantum berikut ini, setiap kemasan diambil sebanyak 20 krop dari bagian atas, tengah dan bawah. Khusus untuk pengujian kerusakan dan busuk, jumlah contoh akhir yang di uji 100 krop. Pelaksanaan dilakukan di lapangan. Jumlah kemasan yang diambil dalam pengambilan contoh dalam lot adalah :
a) Jumlah kemasan 1 sampai 100, contoh yang diambil=5.
b) Jumlah kemasan 101 sampai 300, contoh yang diambil=7.
c) Jumlah kemasan 301 sampai 500, contoh yang diambil=9.
d) Jumlah kemasan 501 sampai 1000, contoh yang diambil=10.
e) Jumlah kemasan lebih dari 1000, contoh yang diambil=minimum 15.
Petugas pengambil contoh harus memenuhi syarat yaitu: orang yang berpengalaman atau dilatih terlebih dahulu dan mempunyai ikatan dengan badan hukum
5.5. Pengemasan
Pengemasan produk biasanya dilakukan dengan polyetiline yang diberi lubang-lubang kecil. Kemasan krop ini kemudian dimasukkan ke dalam doos karton atau keranjang plastik.

VI. REFERENSI
6.1. Daftar Pustaka
a) Cahyono, Bambang. Tomat : budidaya dan analisis usaha tani.Yogyakarta : Kanisius, 1998.
b) Pracaya. Bertanam tomat. Yogyakarta : Kanisius, 1998.
c) Balai Penelitian Tanaman Sayuran. Budidaya Tanaman Tomat. Malang : Balitsa, 1997.



PT. Primasid Andalan Utama didirikan di Jakarta pada tanggal 18 Oktober 1996 yang mempunyai aktifitas kerja khusus di bidang penyediaan sarana pertanian meliputi benih, pupuk daun, pestisida, zat pengatur tumbuh, dan bahan-bahan lain untuk mendukung kemajuan di bidang pertanian. Juga kegiatan untuk produksi benih Semangka non-biji, Mentimun, pengembangan hibrida tomat dan cabe. Kerja sama dengan penangkar benih untuk produksi benih-benih Open Pollinated seperti kacang panjang, buncis, kangkung, dll.

Bidang kerja meliputi:
1. Penelitian dan pengembangan benih-benih unggul seperti semangka non-biji, cabe hibrida, tomat hibrida, dan lain-lain.
2. Membina hubungan dengan para pemasok lokal dalam pengembangan dan pemasaran Pupuk Daun, Pupuk Kalium, Zeolit, ZPT, Wetting Agent, dan lain-lain.
3. Membina hubungan dengan pemasok dari luar negeri seperti Jepang, Taiwan, Amerika, Korea, Belanda, Cina, dan India dalam rangka pengembangan jenis-jenis hibrida unggul di Indonesia.
4. Kerjasama dengan para peneliti swasta dalam rangka penemuan dan pengembangan produk-produk baru.
5. Distribusi sarana pertanian ke wilayah Sumatra, Jawa, Bali, Lombok, Kalimantan dan Sulawesi.
6. Kerjasama dengan aparat pertanian dalam rangka membantu peningkatan produksi pertanian.

Sumber Daya Manusia (S.D.M.):
1. Jajaran Direksi :
S III : 1 orang
S I : 4 orang
2. Staf di kantor pusat :
3. Staf di daerah :
Sumatra : 8 orang S I, 4 orang D III, 2 orang SPMA
Jawa Barat : 4 orang S I, 3 orang D III, 3 orang SPMA
Jawa Tengah : 8 orang S I
Jawa Timur : 6 orang S I, 1 orang D III
Bali : 1 orang S I
Lombok : 1 orang SPMA
Kalimantan dan Sulawesi di kelola dari Surabaya : 1 orang S I
4. Staf Peneliti :
Sumatra : 1 orang S I, 1 orang SMA
Jawa : 1 orang S I, 4 orang SPMA


Distribusi
Untuk wilayah Sumatra, Jawa, Bali, Lombok, Kalimantan dan Sulawesi, telah terbentuk distributor di masing-masing propinsi. Dengan adanya S.D.M. dan jalur distribusi di sebagian besar wilayah Indonesia yang potensial, maka untuk pengembangan dan pengenalan produk-produk baru dapat dilaksanakan secara cepat dan menyebar di daerah-daerah centra produksi pertanian.
Pengalaman yang cukup lama dari pihak manajemen yang mulai terjun di bidang pertanian sejak 1976, sangat mendukung kemajuan dan perkembangan perusahaan. Kepercayaan dari berbagai pihak di luar negeri merupakan suatu modal yang harus dijaga secara profesional.
Barang yang berkualitas bagus, didukung oleh S.D.M. yang handal dan pengelolaan yang profesional merupakan kunci sukses untuk masa depan.

Kantor Pusat dan Kantor Cabang

KANTOR PUSAT & PRODUKSI
Jl. Berdikari I/1A, Cawang
Jakarta 13340
Telp. (021) 8519275, 8519277
Fax: (021) 8194914

KANTOR PEMASARAN
Jl. Kelapa Molek VI Y2/1, Kelapa Gading Permai,
Jakarta 14240.
Telp. (021) 451 7103, 7098 4016,
Fax: (021) 452 5528

KANTOR CABANG
Bumi Prayudan Blok H-7
Mertoyudan, Magelang 56172
Telp. (0293) 325321

“Pluto” Tomat Baru yang
SiapMenggebrak Pasar

Namanya memang mirip nama planet ke-9 dalam tatasurya kita. Namun, seperti kata Shakespeare “apalah artinya sebuah nama” kita tidak perlu mempermasalahkan arti nama itu karena Pluto yang dimaksud disini memang tidak ada hubungannya dengan nama planet atau apapun. Pluto, adalah varietas baru tomat tipe determinate yang mulai dipasarkan secara komersil oleh PT. Tanindo Subur Prima . Meskipun buahnya berukuran kecil namun jangan salah tomat ini memiliki keunggulan tersendiri.
Kini di pasaran banyak beredar jenis-jenis tomat dengan menawarkan berbagai keunggulan yang ditawarkan, namun kehadiran varietas baru Pluto patut diperhitungkan. Bagaimana tidak? Pluto ternyata memiliki keunggulan yang tidak dimiliki tomat varietas lain. “Hasilnya sangat menggembirakan, Mas”, tutur Pak Ali Miftah, petani tomat Desa Padangan, Kecamatan Ngantru, Kab. Tulungagung yang arealnya ditanami tomat baru ini sekaligus dijadikan ajang peluncuran produk baru sekaligus FFD (Farm Field Day) tomat 15 Agustus 2000 lalu. Menurutnya, dengan tehnik budidaya yang benar produksinya bisa mencapai 3,5 kg/tanaman. Ini berarti dengan populasi tanaman + 20.500 tan/hektar akan dicapai produksi 71,7 ton/ha. Suatu hasil yang mencengangkan.
Meskipun ukuran buahnya kecil, namun produksinya mampu mencapai 3,5 kg per tanaman
Keunggulan
Menurut penuturan Pak Ali, tomat yang baru saja dipanennya itu selain berproduksi tinggi juga memiliki keunggulan lain diantaranya :
• Sangat tahan layu. Penyakit layu baik yang disebabkan oleh jamur fusarium maupun bakteri Pseudomonas ampai saat ini masih menjadi momok bagi para petani tomat. Akibat penyakit tersebut, produksi bisa turun 30-60% bahkan bisa mengakibatkan kerugian total. Pluto merupakan varietas hibrida hasil persilangan yang memiliki sifat tahan terhadap layu, sehingga varietas ini cenderung memiliki daya tahan yang lebih kuat terhadap layu dibandingkan varietas lainnya. Hal ini dibuktikan sendiri oleh Pak Ali bahwa tanaman tomat Pluto yang dimilikinya tidak ada yang terserang penyakit layu.

• Tomat Pluto memiliki karateristik buah yang keras, sehingga buah hasil panen tomat dengan Pluto cenderung lebih tahan saat pengangkutan maupun penyimpanan. Implikasinya buah tomat dapat disimpan lebih lama (tahan lama) dibandingkan varietas lain.
• Umurnya genjah. Pluto dapat dipanen pada umur genjah (lebih cepat) yaitu umur + 55 hari setelah tanam.
• Tomat Pluto memiliki daya adaptasi luas, dalam arti varietas ini mampu beradapasi dengan lingkungan seperti apapun. Dengan karakteristik seperti itu, Pluto bisa tumbuh dengan baik di dataran tinggi maupun dataran rendah
Kurang lebih seperti itulah gambaran keunggulan-keunggulan tomat Pluto sebagaimana dijelaskan penanamnya. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, berikut adalah langkah-langkah pembudidayaan tanaman tomat Pluto.
Pak Ali Miftah dengan Bangga Memperlihatkan Kelebatan buah Tomat Pluto
Syarat tumbuh
Meskipun tomat Pluto sudah terbukti keunggulan, tetapi kita tetap saja harus memperhatikan aspek-aspek lain yang menunjang keberhasilan dalam budidaya tomat. Diantaranya : tanaman tomat menghendaki banyak sinar matahari (tidak ternaungi) dengan kelembaban udara yang rendah. Suhu lingkungan yang cocok untuk tanaman tomat berkisar antara 16 –26 o C dengan pH tanah 5,6 – 6,8. Selain itu, akan lebih baik apabila waktu penanaman tomat dilakukan pada awal musim kemarau (akhir penghujan) karena penanaman pada musim ini akan memberikan hasil terbaik. Apabila semua syarat tersebut telah dipenuhi maka langkah selanjutnya yang harus dilakukan antara lain :
1. Persiapan Lahan dan Media Semai
Benih tomat Pluto sebelum ditanam perlu disemai terlebih dahulu pada media semai. Proses penyemaiannya tidak jauh berbeda dengan penyemaian tomat varietas lain yaitu menyiapkan media dan kantong semai. Media semai yang baik adalah campuran antara tanah dan kompos dengan perbandingan 1 : 1 atau bila kondisi tanah terlalu berat (tanah liat, tidak remah) bisa ditambahkan pasir dengan perbandingan tanah : kompos : pasir adalah 1 : 1 : 1. Media semai yang sudah siap dan dicampur merata tersebut kemudian dimasukkan ke dalam kantong plastik ukuran tinggi 8 cm dan lebar 3-4 cm yang bagian bawahnya telah dilubangi untuk drainase. Setelah kita mempersiapkan media dan kantong semai, kita buat bedeng semai sebagai tempat untuk menata kantong plastik yang berisi media semai tersebut. Ukuran bedeng semai adalah 1 meter untuk lebarnya, sedangkan panjangnya disesuaikan kebutuhan. Arah bedengan dibuat membujur ke utara-selatan. Bedeng semai diberi atap dari bahan plastik tembus cahaya dengan tiang sebelah barat tinggi 100 cm dan tiang sebelah timur 80 cm. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, sebaiknya dilakukan pemeraman. Tujuan pemeraman ini adalah untuk merangsang munculnya calon akar (radikula). Pemeraman benih dapat dilakukan dengan menggunakan media kain handuk yang lembab atau kertas merang/koran yang telah dicelupkan dalam air. Benih ditata di atas media secara merata kemudian media tersebut digulung dengan posisi benih ada di dalam. Benih yang diperam tersebut disimpan pada ruang hangat dan dijaga kelembabannya dengan menyemprotkan air setiap pagi dan sore. Benih yang diperam selama 3-4 x 24 jam dipindahkan ke media semai dengan bantuan penjepit. Untuk perawatannya, persemaian harus disiram pagi dan sore hari tetapi jangan terlalu basah agar biji yang baru tumbuh tidak membusuk.

Membuat Bedengan
Tanah yang dipilih untuk areal tanaman tomat sebaiknya bukan bekas tanaman sefamili untuk mencegah tanaman kita terkena serangan penyakit. Lahan tersebut sebaiknya dibersihkan dari sisa-sisa tanaman sebelumnya, kemudian diolah dengan cara dibajak dan digaru untuk meratakan tanah dan memperbaiki aerasi tanah. Tanah yang telah diolah tersebut dibentuk bedengan-bedengan dengan ukuran lebar 1 meter, jarak antar bedeng 60 cm (sebagai saluran drainase), tinggi bedengan 30 – 40 cm dan panjang bedeng disesuaikan bentuk lahan. Tinggi bedengan dibuat setinggi itu agar bila hujan turun air tidak menggenangi tanaman tomat.
Sebelum bedengan tersebut dipasangi mulsa, tanah yang sudah diolah diberikan pupuk dasar dengan seperti tercantum pada tabel rekomendasi. Setelah semua pupuk ditebar dasar merata dan diaduk bersama tanah pada bedengan, kemudian mulsa plastik dipasang sedemikian rupa sehingga permukaan mulsa dapat memantulkan cahaya dan pada setiap ujung dan sisi mulsa dikancing dengan pasak bambu.

Tanaman Tomat Pluto yang terawat baik
Menentukan Jarak Tanam
Bedengan yang sudah ditutup dengan mulsa plastik kemudian dibuat lubang tanam dua baris per bedeng dengan jarak antara baris 60 cm dan jarak dalam baris 60 cm. Lubang tanam dibuat sejajar. Agar tanaman tumbuh tega, setiap tanaman harus ditopang oleh lanjaran/ajir. Lanjaran yang dibutuhkan sepanjang 2 meter dipasang di samping lubang tanam dengan mempertemukan kedua ujung lanjaran yang berseberangan. Pada sisi samping perlu ditambahkan lanjaran melintang untuk memperkuat tegaknya lanjaran dan menghubungkan lanjaran satu dengan yang lainnya. Pemasangan lanjaran harus dilakukan segera setelah bibit tomat dipindah ke bedengan.
Penanaman
Penanaman/transplanting tomat dapat dilakukan pada saat bibit tomat berumur 14 hst (setelah semai). Sebelum melakukan pindah tanam ada beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain: melakukan penyiraman terlebih dahulu pada bibit yang akan dipindah, mengelompokkan bibit berdasarkan ukurannya, melakukan pengairan di bedengan dan membuat lubang tanam sesuai dengan jarak tanam yang ditentukan dengan cara ditugal sedalam 8 – 10 cm. Bibit yang akan dipindah disobek kantongnya dan diusahakan media semai tidak sampai pecah untuk kemudian dimasukkan ke dalam lubang tanam dan ditutup kembali dengan tanah yang rata sejajar permukaan mulsa plastik.
Pemupukan
Pemupukan tomat dilakukan dua tahap yaitu pupuk dasar dan pupuk susulan. Pemupukan dasar diberikan saat pengolahan tanah sebelum pemasangan mulsa, sedangkan pemupukan susulan dilakukan setiap 10 hari sekali.
Perawatan
Perawatan tomat Pluto tidak berbeda dengan tomat varietas lainnya. Karena tomat ini jenis determinate, maka perawatannya relatif lebih mudah dibandingkan tipe indeterminate. Kegiatan perawatan yang dapat dilakukan dalam rangka pemeliharaan tanaman antara lain : melakukan pemangkasan, pengikatan tanaman, pengairan, drainase dan pengendalian Hama dan Penyakit. Pemangkasan tunas samping (cabang lateral) yang muncul di bawah cabang Y dilakukan setelah tanaman berumur 2 minggu. Kegiatan lain adalah pengikatan tanaman yang dilakukan dengan tujuan membantu tanaman tumbuh tegak. Pengairan dilakukan secara rutin setiap 7 – 10 hari sekali dengan cara melewatkan air diantara bedengan secara perlahan-lahan.

Panen
Tomat Pluto dapat dipanen mulai umur 55 hari setelah tanam. Karakter buah yang siap dipanen adalah ukuran buah maksimum ditandai dengan perubahan warna buah dari hijau menjadi merah kekuningan (dalam bahasa Jawa = semburat). Dengan mengikuti petunjuk rekomendasi pemupukan, maka akan diperoleh hasil panen tomat Pluto yang sangat memuaskan, diantaranya ukuran buah mulai dari panen pertama sampai terakhir akan relatif stabil (buah sama besar atau tidak mengecil) dan daging buahnya penuh atau padat.
Tomat Varietas Pluto yang masih muda
Morfologis
Tomat Pluto 528 merupakan tomat Hibrida yang memiliki ciri antara lain pertumbuhan determinate, umur bunga 22 HST. Selain itu, mampu menghasilkan buah 4 - 5 /tandan atau setara dengan 52 buah/tanaman. Dengan umur yang genjah (55 HST) Tomat ini bisa dipanen 9 kali pemanenan. Meskipun berukuran kecil namun buahnya rata-rata mempunyai berat 3,5 Kg/tanaman. Rasa tomat inipun cukup manis sesuai dengan selera pasar saat ini. Keunggulan lain tomat Pluto adalah tahan terhadap Layu fusarium, bakteri Pseudomonas, Phytopthora, dan serangan hama Thrips. Dengan kebutuhan benih 82 gram/Hektar pembudidayaan tomat ini sangat efisien dan menguntungkan. Tomat ini juga dapat disimpan selama 15 hari sehingga tahan simpan dan tahan angkut.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home